RabbaniTour and Travel 2017

Berita Seputar Umroh – Tata Cara Melempar Jumrah

Berhaji merupakan rukun Islam yg kelima dan wajib dilaksanakan bagi umat Islam yg mampu. Mampu secara fisik, ekonomi dan psikologis. Bergama Islam, Baligh, Berakal sehat, Merdeka itu semua merupakan syarat sahnya berhaji. Dalam ibadah haji ada rukun haji juga wajib haji.

Rukun haji adalah suatu hal yg wajib dilaksanakan dalam menunaikan ibadah haji & jika tidak dilaksanakan maka haji tersebut dikatakan tidak sah atau gagal sehingga mesti diulang kembali ritual hajinya di lain kesempatan. Ihram, wukuf di arafah, thawaf ifadah, Sa’I dan Tahallul merupakan Rukun Haji.

“Liburan akhir tahun,kemana nih? Umroh Yuk?

Adapun wajib haji itu adalah kegiatan yg harus dilaksanakan sebagai pelangkap rukun haji, namun jika tidak dilaksanakan tidak akan menyebabkan hajinya batal/gagal, tetapi diharuskan membayar Dam (Denda) sebagai gantinya. Wajib haji diantaranya Berniat Ihram (setelah memakai kain ihram) dilakukan dari miqat makani, Mabit (bermalam) di Muzdalifah ketika perjalanan dari Arafah menuju Mina, Melontar Jumrah Aqobah tgl 10 Dzulhijjah, Mabit di Mina pada tgl 11, 12 & 13 Dzulhijjah (hari tasyrik), Melontar Jumrah Ula, Wustha, Aqobah pada hari tasyrik, Tawaf Wada (tawaf perpisahan) sebelum meninggalkan kota Mekkah dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan yg dilarang ketika ihram.

Tata Cara Melempar Jumrah
Tata Cara Melempar Jumrah

Tata Cara Melempar Jumrah

Berikut tata cara melempar jumrah yg dilakukan Rosululloh saw dan para sahabatnya:

  1. Tertib dan berurutan. Jumrah dimulai dari Ula, Wustha dan Aqobah. Hal ini mesti dilakukan secara berurutan.
  2. menggunakan batu kerikil. Batu yg dianjurkan adalah kerikil yg ukurannya sebesar buku jari. Tidak dianjurkan untuk menggunakan batu yg besar, karena khawatir akan mencelakai orang lain. Untuk jamaah rombongan pertama (Nafar Awal) jumlah batu yg diperlukan adalah 49 batu, sedangkan Nafar Tsani memerlukan 70 batu.
  3. ketika melontar jumrah harus mengucap takbir.
  4. melontar kerikil 7x pada setiap jumrah.
  5. batu kerikil harus tepat mengenai tugu jumrah & masuk ke dalam lubang.
  6. berdoa setiap kali telah menyelesaikan lempar jumrah.
  7. melontar dengan memposisikan Mina tepat berada di sebelah kanan & Baitullah di sebelah kiri. Hal ini seperti dijelaskan dalam Shohih Bukhori 1748.

Abdullah bin Umar ra. pernah ditanya oleh seorang pria “kapankah sebaiknya aku melontar jumrah?” Abdullah menjawab, “jika imam (pimpinan) melakukannya maka ikutilah!” kemudian orang itu masih mengejar, “tapi kapan waktunya?” Abdullah menjawab, “dulu, kami melakukannya bila matahari zawal (tergelincir)” (Hadits Riwayat Bukhori 1746).

Dan di sunnahkan setelah melontar Jumrah Ula & Jumrah Wustha berhenti di samping tempat melontar jumrah. Yang di mana setelah melontar Jumrah Ula di sunahkan berdiri di arah kanan tempat melontar jumrah dengan menghadap kiblat seraya di diringi dengan berdo’a panjang kepada Allah SWT. Sedang sehabis melontar Jumrah Wustha di sunnahkan berdiri di samping kiri tempat melontar dengan menghadap kiblat seraya berdo’a panjang kepada Allah SWT. Tapi sehabis melontar Jumrah Ula Wustha ‘Aqabah tidak di sunnahkan berdiri di samping nya karena Nabi Muhammad SAW setelah melontar Jumrah Ula Wustha Aqabah tidak berdiri di sampingnya. baca juga (Menghabiskan Waktu Liburan Di Turki Bersama Keluarga Tercinta)

Umroh Bersama Rabbanitour – Travel Umroh Terpercaya Sejak 1996

Umroh Yuk? Bersama Rabbanitour!!! Jangan lewatkan info terupdate promo umroh. Untuk info paket dan biaya, anda dapat langsung menghubungi CS kami di 0822-8000-1799 atau langsung mengunjungi kantor kami di jl. Lengkong Kecil no.4 Bandung atau ke kantor Perwakilan kami yang berada di Lampung dan Bogor. Bagi anda pengguna Aplikasi Whatsapp, bisa Klik no di bawah ini:

Comments are closed.