RabbaniTour and Travel 2017

Tata Cara I’tikaf Menurut Sunnah nya Rasulullah SAW

Sudahkah anda berniat untuk tidak melewatkan kesempatan emas di 10 hari terakhir di bulan Ramdhan dengan menyampaikan seluruh pengharapan doa-doa (bermunajat)  dan ibadah sepenuh hati  dengan ber-i’tikaf di masjid.

I’tikaf (berhenti/diam)- di dalam mesjid dgn syarat-syarat tertentu semata mata niat karena Allah Swt. I’’tikaf sunnah di lakukan setiap waktu, tetapi yg paling utama jika di lakukan dlm bulan Ramadhan. I’tikaf pada bula Ramadhan bisa di katakan sebagai ruang perawatan khusus untuk menghilang kan kanker dosa dari dlm hati. I’tikaf adalah lingkungan khusus yg jauh dari noda dan Kotoran dunia.

Konon Nabi Muhammad Saw selalu melakukan i’tikaf pada 10 hari terakhir bulan ramadhan. Kemudian pada tahun di mana beliau meninggal dunia, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari. Ketika beliau tidak bisa i’tikaf, beliau kemudian menggantinya dengan I’tikaf sepuluh hari pertama di bulan Syawal. Tindakan Rasulullah itu merupakan bukti pentingnya ibadah i’tikaf. Kesungguhan Rasulullah untuk mengerjakan ibadah yang satu ini juga bisa menjadi motivasi bagi Anda untuk melakukan hal yang sama.

“Liburan akhir tahun, kemana nih? Umroh yuk?”

Ada hadist yang menjelaskan :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ أَنْ يَعْتَكِفَ الْعَشْرَ اْلأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ فَأَذِنَ لَهَا وَسَأَلَتْ حَفْصَةُ عَائِشَةَ أَنْ تَسْتَأْذِنَ لَهَا فَفَعَلَتْ فَلَمَّا رَأَتْ ذَلِكَ زَيْنَبُ ابْنَةُ جَحْشٍ أَمَرَتْ بِبِنَاءٍ فَبُنِيَ لَهَا قَالَتْ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ إِذَا صَلَّى انْصَرَفَ إِلَى بِنَائِهِ فَبَصُرَ بِالأ بْنِيَةِ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوا بِنَاءُ عَائِشَةَ وَحَفْصَةَ وَزَيْنَبَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ أَالْبِرَّ أَرَدْنَ بِهَذَا مَا أَنَا بِمُعْتَكِفٍ فَرَجَعَ فَلَمَّا أَفْطَرَ اعْتَكَفَ عَشْرًا مِنْ شَوَّالٍ

Artinya :“Dari Aisyah, semoga Allah ridha kepadanya, ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah bermaksud untuk i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Aisyah meminta izin kepadanya untuk ikut beri’tikaf. Beliau mengizinkannya. Kemudian Hafshah meminta Aisyah agar memohonkan izin kepada Rasulullah baginya. Aisyahpun mengabulkannya. Ketika Zainab binti Jakhsy melihat hal itu, ia menyuruh seseorang untuk membuatkan bangunan [tenda] baginya. Adalah Rasulullah apabila selesai shalat [shubuh] beliau masuk ke tempat i’tikafnya. Maka beliau melihat ada beberapa bangunan [tenda i’tikaf]. Beliau bertanya, “Apa ini?”. Mereka mengatakan, “Itu  bangunan [tenda tempat i’tikafnya] Aisyah, Hafshah dan Zainab!”. Rasulullah bersabda, “Apakah kabaikan yang kalian inginkan dengannya? Sungguh aku tidak akan jadi ber-i’tikaf!”. Kemudian beliau pulang. Tatkala lebaran, Rasulullah i’tikaf sepuluh hari di bulan Syawal”. (Hadits Sahih Riwayat Bukhari-Muslim dan yang lainnya)

itikaf

Berikut ini adalah Tata Cara I’tikaf :

Cara mengerjakan i’tikaf yaitu dgn niat simak selanjutnya.

  1. “Nawaitul i’tikafa lillaahi ta’aalaa”
    “Aku niat i’tikaf karena iman dan mengharap akan allah, karena allah”.Berdiam diri di dalam masjid dengan memperbanyak dzikir, tafakur, membaca do’a tesbih dan di utama kan memperbanyak membaca Al-qur-an. Di riwayatkan dari Aisyah r.a. katanya : yang artinya : Dan dari padanya (Aisyah r.a.) ia berkata : “Bahwasannya Nabi Muhammad SAW apabila hendak beri’tikaf , beliau shalat subuh kemudian masuk ke tempat i’tikafnya” (H.R. Bukhari dan Muslim).
  2. Menghindarkan diri dari segala perbuatan yang tidak berguna. dan di dalam i’tikaf juga di sunnahkan membaca do’a : “Allahuma innaka a’fuwun tuhibbul a’fwa fa’fu a’nhu ”
    Artinya : “Ya Allah bahwasannya engkau menyukai pemaafan karena itu maafkanlah akan daku”. baca juga : ( Menapaki Peradaban Islam Di Eropa)
  3. Tidak keluar dari tempat i’tikaf untuk urusan yg tdk bersifat harus di lakukan. Adapun keluar untuk urusan yg bersifat harus di lakukan, hal itu boleh. Urusan tersebut meliputi hal-hal yg bersifat tabiat manusiawi seperti kebutuhan buang hajat & makan minum, atau yg bersifat aturan syariat seperti wudhu, mandi janabah, dan shalat Jum’at. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Tdk ada khilaf tentang boleh nya seseorang yg beri’tikaf keluar dari masjid untuk suatu urusan yg harus di lakukan.” Dalil nya adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
    “Sesungguh nya jika Nabi Saw beri’tikaf, beliau biasa nya tdk masuk rumah kecuali untuk suatu hajat (pada riwayat Muslim: untuk hajat manusiawi).” (Muttafaq ‘alaih)
  4. Tidak melakukan jima’ (senggama), berdasarkan ayat i’tikaf:“Janganlah kalian menggauli istri-istri itu, sedangkan kalian beri’tikaf dalam masjid.” (Al-Baqarah: 187). Hal ini hukum nya haram & membatal kan i’tikaf, baik di lakukan di masjid maupun di luar masjid (rumah). Sebab, Allah Swt mengharamkan nya secara khusus pada i’tikaf, padahal pada asal nya halal di luar i’tikaf. Jima’ di haram kan dlm i’tikaf karena bertentangan dgn tujuan i’tikaf.

Umroh bersama Travel Terpercaya Sejak 1996

Jika anda ingin mengetahui Manasik umroh secara lebih lengkap disertai dengan tips perjalanan dan perlengkapan umroh, persiapan, dan juga macam-macam ibadah yang bisa dilaksanakan di tanah suci, tempat-tempat bersejarah di Mekah Madinah, dan juga tips agar selalu mabrur, Ikuti saja Manasik Umroh Rabbani Tour yang dilaksanakan secara rutin. Jangan lewatkan info terupdate promo umroh. Untuk info paket dan biaya, anda dapat langsung menghubungi CS kami di 0822-8000-1799 atau langsung mengunjungi kantor kami di jl. Lengkong Kecil no.4 Bandung atau ke kantor Perwakilan kami yang berada di Lampung dan Bogor. Bagi anda pengguna Aplikasi Whatsapp, bisa Klik di bawah iniJika anda berminat kontak kami dengan mengisi form di bawah ini :

Comments are closed.